07. Proses Perencanaan Keuangan
Proses perencanaan keuangan (financial
planning process) memerlukan enam langkah untuk menolong seseorang melihat
gambaran besar posisi keuangannya. Dengan menggunakan enam langkah ini,
seseorang dapat mengetahui posisi keuangannya saat ini, apa yang mungkin
dibutuhkan di masa depan, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan
tersebut.
Termasuk dalam proses ini adalah
mengumpulkan informasi data keuangan yang relevan, menentukan tujuan-tujuan
hidup, mengevaluasi status keuangan seseorang tersebut saat ini, dan kemudian
menentukan strategi atau perencanaan untuk "bagaimana" mencapai
tujuan keuangan seseorang tersebut berdasarkan situasi saat ini dan rencana
masa depannya.
Penjelasan dari ke-6 langkah
Proses Perencanaan
Keuangan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Menetapkan tujuan keuangan dan menentukan prioritas
Pada
tahap ini seseorang (selanjutnya kita sebut individu) bersama perencana
keuangan menentukan tujuan keuangannya, memahami jangka waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai tujuan tersebut, mendiskusikan bagaimana perasaan individu atas
risiko yang mungkin muncul dan selanjutnya memprioritaskannya. Yang perlu
ditekankan adalah tujuan tersebut haruslah SMART atau spesifik (specific),
dapat diukur (measurable), dapat dicapai (achievable), realistis (realistic),
dan punya target waktu pencapaian (target).
Contoh
dari tujuan keuangan:
- Mempertahankan gaya hidup saat ini,
- Mengakumulasikan kekayaan untuk tujuan pensiun,
- Proteksi jiwa dan kesehatan,
- Pendidikan anak,
- Pembagian warisan secara adil,
- Kebebasan finansial,
- Meminimalkan pajak yang dibayar,
- Dan sebagainya.
2. Mengumpulkan informasi yang relevan
Langkah
berikutnya adalah mengumpulkan data finansial yang diperlukan sebanyak mungkin
untuk merumuskan strategi yang cocok guna merealisasikan tujuan. Semua
informasi atau dokumen yang diperlukan harus ditemukan, sebelum mendapatkan
nasihat yang dibutuhkan. Informasi mengenai data keuangan dapat diperoleh
melalui pengumpulan data, survei, maupun pengisian kuesioner. Cara apa pun yang
ditempuh mempunyai kelebihan masing-masing.
Contoh
informasi yang harus dikumpulkan:
- Data tentang aset/kekayaan dan kewajiban/utang,
- Proyeksi pendapatan di masa mendatang,
- Analisis arus kas dan budget,
- Tabungan, polis asuransi yang dimiliki,
- Profil risiko individu,
- Dan sebagainya.
3. Analisis informasi yang ada
Selanjutnya,
individu dan perencana keuangan harus melakukan analisis dan evaluasi atas
informasi yang diperoleh untuk menentukan situasi individu saat ini dan
menentukan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan individu tersebut. Pada
tahap ini perencana keuangan mencoba melihat kekuatan dan kelemahan status
keuangan individu dan menganalisis bahaya atau risiko potensial yang mungkin
muncul yang dapat menghalangi pencapaian tujuan keuangan.
Analisis
yang dilakukan termasuk analisis aset, kewajiban dan arus kas, asuransi yang
telah dimiliki, serta investasi yang telah dilakukan. Hal ini tergantung dari
jenis pelayanan yang diinginkan sang individu. Dari analisis ini, perencana
keuangan dapat menilai apakah tujuan keuangan kliennya realistis atau tidak. Jika
tidak, sang individu akan disarankan untuk mengubah harapannya.
Contoh
area penting pada saat melakukan analisis dan evaluasi ini:
- Prospek karier dan pendapatan nasabah,
- Akumulasi dana yang sudah terkumpul untuk kebutuhan pensiun,
- Kepemilikan rumah,
- Pengelolaan kewajiban (utang),
- Dana yang telah dipersiapkan untuk pendidikan,
- Perencanaan bisnis pribadi,
- Tabungan yang sudah dimiliki hingga saat ini,
- Dan sebagainya.
4. Menyajikan rekomendasi perencanaan keuangan
Perencana keuangan harus memberikan
rekomendasi perencanaan keuangan yang dititikberatkan pada tujuan keuangan
individu berdasarkan informasi yang diberikan dan mengakomodir sejumlah faktor
eksternal yang mungkin menghambat pencapaian tujuan keuangan. Perencana
keuangan harus memastikan bahwa rekomendasi yang dibuatnya dibangun atas dasar
pertimbangan yang sangat hati-hati dari seluruh data kuantitatif dan kualitatif
yang terkumpul.
Perencana
keuangan bersama-sama dengan individu yang menjadi kliennya akan mempelajari
rekomendasi tersebut. Tujuannya adalah menolong individu untuk memahami
rekomendasi tersebut sehingga individu dapat mengambil keputusan secara tepat
dan benar. Perencana keuangan juga harus mendengarkan apa yang dipikirkan oleh
individu tersebut dan melakukan revisi atas rekomendasi tersebut apabila
diperlukan.
Rekomendasi
yang dibuat harus komprehensif dan sebaiknya terdiri dari:
- Perencanaan warisan dan perencanaan pajak,
- Perencanaan asuransi, perencanaan pensiun & pendidikan anak,
- Perencanaan investasi dana lokasi aset,
- Perencanaan untuk memiliki rumah pribadi,
- Perencanaan tabungan rutin maupun arus kas,
- Dan sebagainya.
5. Implementasi rekomendasi perencanaan keuangan
Langkah
selanjutnya yang paling penting adalah mengimplementasikan rekomendasi yang
dibuat. Ibarat dokter yang sudah memberikan resepnya kepada pasien, maka agar
bisa sembuh, pasien tersebut harus menebus resep tersebut. Perencana keuangan
dan individu bersama-sama mempelajari rekomendasi perencanaan keuangan dan
harus sepakat tentang bagaimana rekomendasi tersebut akan dilaksanakan. Perencana
keuangan dapat menjadi semacam "pengawas" dalam melakukan koordinasi
atas seluruh proses perencanaan keuangan yang terjadi bersama individu dan
profesional lainnya, seperti pengacara/notaris, pialang saham atau konsultan pajak/akuntan.
6. Mengawasi perencanaan keuangan
Mengingat
proses perencanaan keuangan adalah proses yang dinamis, maka diperlukan
pemeriksaan dan revisi secara berkesinambungan. Tujuan dan status keuangan
individu sangat mungkin berubah tanpa dapat dihindari. Sebab perubahan adalah
hal yang absolut. Dan perubahan bisa terjadi baik secara internal (dari
individu itu sendiri) maupun secara eksternal (misalnya inflasi dan
sebagainya).
Pertemuan
rutin antara perencana keuangan dengan individu dalam rangka pengawasan ini
sangat penting untuk melihat perubahan maupun perkembangan keadaan keuangan
individu. Di samping itu juga penting untuk memonitor portofolio aset individu
tersebut dan memberikan saran yang cocok dengan perubahan-perubahan tersebut. Tujuan
akhir dari pengawasan perencanaan keuangan ini adalah untuk memastikan bahwa
perencanaan tersebut tercapai sesuai dengan yang diharapkan.